Rabu, 20 Februari 2013

Keperawanan Yang Hilang dan Cinta Yang Terbuang

Mungkin benar orang bilang bahwa untuk menemukan cinta sejati itu memang sulit. Bukan hal yang mustahil memang, tapi sungguh tidak mudah. Telah lama aku mencoba menemukan apa yang disebut oleh banyak orang sebagai cinta sejati. Namun sampai sekarang aku tak juga mendapatkannya. Bagai mencari satu jarum yang jatuh pada tumpukkan jerami bekas memanen padi para petani adalah istilah yang cocok untuk menggambarkannya.

Berawal dari cinta monyetku saat aku berusia dua belas tahun terhadap bawo anak ketua RT kampungku. Aku mencintainya saat itu karena betapa seringnya kami bertemu yaitu dari sejak kecil usia SD saat kami ikut belajar menari dibale banjar, sampai akhirnya saling jatuh hati pada saat aku memasuki kelas satu SMP. Bawo mengungkapkan cinta melalui surat kepadaku, dan aku menerimanya karena dia bukan cuma ganteng tapi juga cerdas dan pintar.

Tidak lama hubunganku dengan Bawo bertahan. Hanya sekitar satu tahun saja kami pacaran. Sampai pada akhirnya kami putus setelah ada seorang perempuan menginginkannya dan Bawo takluk sehingga membuatnya memutuskanku. Cinta pertamaku kandas diambil teman sekelas.

Setelah putus dari Bawo aku tidak menerima siapapun yang menginginkanku menjadi pacarnya. Aku pikir semua lelaki sama, setelah menemukan yang lebih dariku maka dia akan meninggalkanku. Aku lebih memilih untuk konsentrasi belajar sehingga aku bisa lulus dan masuk di SMA terbaik di daerahku. Dan aku berhasil sampai lulus dengan nilai yang memuaskan sehingga bisa masuk di SMA impianku.

Di SMA itu aku mendapatkan teman baru yang banyak. Dan oleh karena ketatnya seleksi untuk masuk ke SMA nomor satu di Singaparna itu, maka murid-muridnya bisa dibilang mempunyai kemampuan otak yang bisa dibilang lumayan. Aku duduk sebangku dengan teman baruku bernama ajeng. Wajahnya cantik, hidungnya mancung mirip dengan perempuan-perempuan eropa.

Kami sangat akrab sehingga tak ada rahasia di antara kami yang saling kami sembunyikan, termasuk aku yang sedang jatuh cinta pada seorang lelaki bernama Oka yang aku kenal saat MOS (Masa Orientasi siswa).

“Oka itu adalah penyemangat, Ajeng…” Aku bilang kepada Ajeng saat kami duduk di kantin sekolah ketika jam istirahat. Jam sepuluh. Matahari sembunyi di balik awan, dan langit begitu mendung. Mungkin hujan akan segera turun untuk menyirami kering tanah yang sudah seminggu kemarau.

“Iya, aku paham. Tapi yang jadi masalah sekarang adalah, Oka sudah punya pacar.” Ajeng.

“Aku gak peduli Say, aku akan menunggu dia putus dari si Kerty yang sok cantik itu. Atau kalau perlu aku sendiri yang akan membuatnya putus. Lihat saja.” Aku ngotot, dan Ajeng sudah mengerti karakter asliku yang pengotot walaupun kami bersahabat masih seumur jagung.

“Ya sudah terserah kamu saja. Namun satu hal yang harus kamu ketahui, adalah tidak bisa memaksakan orang lain untuk mencintaimu. Cinta itu mengalir apa adanya dan tanpa paksaan. Jika cinta karena terpaksa, maka aku yakin pasti tak akan bisa langgeng.” Ajeng memang begitu baik dan sabar menghadapiku yang kadang seperti api yang meluap. Seringkali dia mengingatkanku. Ajeng lebih dewasa dariku, aku akui itu.

***

“Ajeng!!” Aku lihat Ajeng sedang duduk di taman kota singaparna. Hari itu libur karena sekolahku dijadikan tempat untuk rapat seluruh guru SMA yang ada di kota itu, dan aku berencana untuk hang out dengan seseorang yang baru dua hari menjadi pacarku.

“Sari?!”Ajeng terkejut ketika melihat aku menggandeng Oka.

“Iya, ini aku. Jangan kaget gitu dong… Lagi ngapain di sini?“ Ajeng bersalaman dengan Oka, dan mereka saling senyum.

“Cieee, pada mau ke mana nih. Ekhm ekhm!” Ajeng menggodaku. “Aku lagi nungguin mamaku, lagi belanja di pasar. Daripada aku ikut ke pasar berdesak-desakkan, mending aku nungguin di sini aja. Lagian mamaku ditemenin sama bibiku juga.” Taman Kota Singaparna memang berdekatan dengan pasar tradisional.

“Aku mau jalan, mumpung lagi libur.” Jawabku senyum, dan Oka tidak banyak berbicara. Mungkin karena belum kenal dekat dengan Ajeng. Kami bercakap sebentar lalu aku pergi bersama Oka dengan tujuan sebuah tempat rekreasi air terjun yang ada di pinggiran kota singaparna. Kebetulan saja kami berhenti dulu di taman alun-alun itu untuk sekedar berjalan-jalan sebelum ke tempat yang sudah direncanakan olehku dan Oka.

Setibanya di lokasi rekreasi, Oka memarkir motor Mio berwarna hitamnya di tempat yang sudah disediakan. Kulihat jam di tangan menunjukkan pukul 11.25. Setelah membeli tiket, kami lalu masuk. Lokasi permandian umum itu terlihat sepi, sepertinya kami adalah orang pertama yang masuk.
Di tempat itulah segala hal dimulai. Kami melakukan hal yang tidak seharusnya kami lakukan untuk pertama kali. Saat itu semua terasa indah, tapi tidak di kemudian hari. Setelah kami melakukan hubungan intim beberapa kali, pada akhirnya aku dan Oka putus. Aku prustasi dan hanya Ajeng lah yang mengetahui tentang segala yang terjadi antara aku dan Oka.

Hal itu terjadi sekitar delapan tahun yang lalu, hingga sampai saat ini aku berusia dua puluh enam tahun, aku belum juga menemukan seseorang yang mau menerimaku apa adanya, menerima ketidak perawananku. Ada banyak yang mendekatiku, namun setelah mereka tahu aku tidak perawan karena telah aku ceritakan kepadanya tentang kisahku di masa lalu, mereka lalu meninggalkanku.

Namun kini aku tengah berusaha yakin dengan seseorang bernama Bayu. Dia bilang akan mencintaiku apa-adanya dan akan menerima segala kekuranganku, termasuk ketidak perawananku. Aku sudah katakan kepadanya sejak awal kami jadian. Aku ceritakan kepadanya tentang kisah masa laluku dan dia terima dengan biasa saja, tidak mempermasalahkan dan seolah tak peduli.

“Sayang, aku mencintaimu dengan sederhana dan biasa saja. Tidak akan pernah aku masalahkan masa lalumu dan kamu aku cintai apa adanya.” Oh Bayu, kamu memang paling bisa membuatku melayang dengan indahnya tuturmu. Kamu membuatku kembali menemukan kepercayaan kepada manusia bernama lelaki. Aku berharap semoga kamu tidak pernah berubah mencintaiku sehingga aku menjadi seorang perempuan yang merasa dihargai.

“Bagaimana kalau nanti malam kita pergi ke luar untuk malam mingguan…” Ajak bayu sabtu sore yang teduh itu. Aku tidak kuasa untuk menolaknya karena aku merindukan saat berdua dengan orang yang aku cintai. Apalagi ini adalah kamu yang telah mengikrarkan dirimu untuk mencintaiku apa adanya. Pasti akan jadi malam Minggu yang berkesan.

Jam tujuh malam Minggu yang cerah itu Bayu menjemputku dengan motor Ninja 250R-nya. Kami lalu pergi menuju Pinggir pantai, yaitu tempat di mana anak-anak muda berkumpul bersama pasangannya.

Sesampainya di sana, Bayu mencium bibirku dengan hangatnya sehingga membuatku hanyut pada lumatan demi lumatan. Suasana tempat memang tidak begitu gelap dan tidak begitu terang. Dan kami menghabiskan malam itu di tempat yang tidak begitu terang. Setelah puas berpeluk cium dan berbincang mengenai banyak hal, kami lalu pulang. Rumahku dan rumah Bayu tidak terlalu jauh, hanya sekitar dua puluh menit kalau memakai motor dengan kecepatan rendah. Dan sebelum sampai ke rumah sekitar jam sepuluh malam, kami mampir di rumah Bayu untuk mengambil sesuatu yang ingin diberikannya untukku. Di rumahnya Nampak sepi karena kebetulan orang tua Bayu sedang menginap di rumah saudaranya yang berada di Luar kota.

“Ada yang ingin aku berikan kepadamu sayang, kemarilah…” Bayu mengajakku ke kamarnya. “Tutup matamu sayang…” aku tidak menolaknya, dan Bayu mendaratkan bibirnya di bibirku dan menidurkanku di tempat tidurnya.

“Bayu… kamu mau apa sayang…” Aku berusaha melepaskan diri dari pelukan eratnya dan bibirnya yang tidak berhenti menciumi bibir dan leherku. Aku menggelepar. Ada perasaan risih, dan ingin lepas. Tapi tidak bisa. Aku meyakinkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bayu pasti akan menikahiku karena dia telah berjanji akan menerimaku apa adanya. Aku menyerah. Aku pikir, tidak mengapa aku melakukan ini dengan seseorang yang bersedia menerimaku.

***

“Sari….” Aku mendengar seorang perempuan memanggilku. Suaranya tidak asing, aku yakin itu Ajeng. Aku tersenyum melihatnya berlari dari depan rumahku menuju tempatku duduk di halaman sebelah kiri tempatku biasa menghabiskan sore jika tidak ada kesibukan pekerjaan.

“Ada apa Ajeng sayang, kenapa berteriak dan berlari-lari begitu…” Aku berusaha menenangkannya.

“Sari, tadi pagi ada seseorang mengantarkan undangan ke rumahku.” Katanya tergesa. “Tadinya aku biarkan saja di atas meja, karena aku pikir paling juga anaknya tetangga atau teman lama. Namun ternyata, kamu lihat ini…” Ajeng memperlihatkan kartu undangan berwarna hitam yang dibawanya. Aku segera membukanya dan,

“BAYU??”
Comments
1 Comments

1 komentar:

  1. meskipun salah satu sifat wanita itu Rapuh..
    tapi Dia tidak boleh begitu saja dengan mudahnya jatuh ke pelukan seorang laki-laki..

    semoga para gadis yg telah membaca cerita ini bisa kuat dan bijak dalam menilai perasaan seorang yg bernama "cowok"

    BalasHapus