Sabtu, 17 November 2012

ETIKA BERORGANISASI

Etika Berorganisasi
Oleh: Ida Bagus Gede Candrawan

Dalam sebuah bukunya William A.Cohen, menceritakan tentang seorang wartawan bernama Napoleon Hill tentang fakta yang menakjubkan merigapa pria dan wanita yang paling terkenal di dunia bisa sukses.

Fakta yang didapatkannya adalah bahwa tidak ada orang sukses yang semata-mata karena usahanya sendiri atau dengan hasil dari apa yang dilakukannya sendiri. Jadi anda hanya akan berhasil sebagai seorang pemimpin bila anda sendiri mampu menempatkan orang lain yang memiliki bakat yang lebih besar dari anda sendiri. Seorang raja Andrew-Carnegie karena kesuksesannya menggerakkan orangorang besar menuliskan satu kalimat indah dalam batu nisannya disini berbaring orang yang tahu bagaimana cara mengelilingi dirinya dengan orangorang yang lebih pandai daripada dirinya (W.A. Cohen, 1996 : 4-5). Kepemimpinan yang balk tidak tergantung pada keadaan yang baik atau suasana keia yang menyenangkan. Kemampuan andamembenikan motivasi kepada orang lain untuk bekerja sampai motivasi maksimum, itülah syaratnya.

Dalam setiap gerak sebuah organsiasi tentu tidak akan lepas dan visi dan misi organisasinya. Dalam pencapaian visi organisasi secara optimal hendaknya lewat misi atau jalan yang tidak terlepas norma atau tika sosial dapat memberikan kontribusi dalam kemajuan organisasi ditentukan beberapa faktor, seperti intern organisasi dan ekstern organisasi. Secara intern adalah bagaimana seorang pemimpin telah mengamalkan “Tata Susila” dalam tataran aktual Bagaimana pula setiap anggota organisasi tersebut berbuat dalam membangun organisasinya. Dan luar sistem; organisasi dan kinerjanya akan banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan sosial dan perkembangan jaman.

Beranjak dari keinginan untuk mengetahui peranan etik kepemimpinan dalam kemajuan sebuah organisasi maka berikut akan terungkap beberapa pemikiran yang diacu dari konsep etika dan susila agama Hindu.

Agama Sebagai Dasar Kesusilaan
Sebuah bangunan yang kokoh akan tetap berdiri bila saat dibangun berada pada pondasi yang kuat. Lalu pondasi membangun etika dan susila dalam berorganisasi dasrnya yang mana harus kokoh? Dengan tidak berpandangan bahwa kita berfikir fanatisme sémpit maka ajaran agama adalah dasar untuk melaksanakan etika sosial dalam berorganisasi. Karena ajaran agama akan memberikan sangsi hukum yang niskala atas suatu perbuatan yang ditentukan oleh Tuhan (Gede Sura, 1977 :2-3).

Dalam organisasi sebagaimana dalam satu masyarakat pada umumnya ketenteraman akan diperoleh bila hubungan yang harmonis tetap terjalin. Orang yang saling membenci tidak akan mempunyai hubungan itu. Hubungan yang harmonis antara satu individu dengan individu lainnya akan tercapai bila didasari atas budi pekerti yang luhur. Budi pekerti yang luhur tidak hanya akan mengantarkan orang mencapai kebahagiaan di dunia tapi juga di akhirat.

Dimana orang yang berbudi rendah berkumpul, maka disana akan dijumpai kehidupan yang serba kacau, sehingga kecemasan dan kejahatan akan selalu mengancam kita (Gde Sura, 1977: 4).
Adanya dasar budi pekerti tersebutlah akan mendorong untuk saling menolong, saling pengertian, mau saling menerima dan saling memberi yang satu dengan lainnya secara tulus.

a. Gunakan wiweka
 Mana yang pantas ataupun tidak dalam sebuah organisasi dapatlah dipilah kendàti semua itu tidak mudah. Dalam Sarasamusccaya dikatakan “Oleh karena itu jangan hendaknya tanpa pertimbangan atau penyelidikan, hendaklah anda memikirkan perbuatan din anda sehari-hari, pikir bahwa “apakah salah perbiiatanku ml atau benarkah, sama dengan hewankah atau sama dengan sang Panditakah tingkah laku ku?” demikian hendaknya pikiran anda dan han ke han dan anda senantiasa menasehati din mengenai perbuatan anda itu’ (Cede Sura, 1996. 9).

Akan halnya bagi sebuah organisasi yang tanpa satu “Interest” hanya sebagai presure group, maka jangan sampai mudah untuk terjebak pada satu pilihan yang ternyata morugikan aturan organisasi ‘dan bahkan kepentingan anggota secara keseluruhan sebesar apapun tekanan dan luar tubuh orgapisasi maka seorang pemimpin harus berani dengan “wiwekanya” dan dengan budi pekertinya menyelamatkan amanatorganisasi yang diembannya.

Tidak selalu tingkah laku yang dianggap baik itu akan berar demikian sebaliknya. Dalam siatuasi tertentu sebuah organisasi akan dihadapkan pada beberapa pilihan yang mau tidak mau keputusan akan diambil pemimpinnya. Maka disinilah peran etika keorganisasian akan dipertaruhkan. Pemimpin akan memutuskan sesuatu adalah demi sebesar-besarnya tujuan organisasi yang tertuang dalam perangkat aturan organisasi.

b. Suasana lingkungan
Lingkungan dimana tempat organisasiitu berada akan mempengaruhi suatu organisasi. Ambil contoh organisasi lembaga keagamaan. Ketika berbicara organisasi itu di lembaga keagamaan maka orientasi orang adalah masalah keagamaan yang dominan. Tetapi itu tidak mutlak, serta jangan memiliki asumsi mahasiswa agama harus “nrimo” dan pasif-karena sedikitsedikit takut bertentangan deñgan ajaran-agama. Demikian pula seorang tenaga pendidik janganlah mengembangkan sifat dan sikap yang tidak memberikan kondisi dinamika siswa utuk mengembangkan wäcana intelektualnya.

Organisasi boleh saja ada pada lingkungan sekolah agama, ‘namun sudakkah setiap unsur didalamnya mencerminkan perilaku Praktis” keagamaan. Sebagai satu acuan dapatlah dibaca tentang pengaruh satu lingkungan terhadap watak seseorang ataupun organisasi dan “Slokantara sloka 45”, sebagaimana yang dikutip Drs. Gde Sura dalam bukunya Susila Agama Hindu Th 1996.

c. Berhati-hati
Banyak sinyalemen bahwa kehati-hatian akan mengakibatkan kelambanan dalam bertindak. Satu sisi memang benar pernyataan tersebut. Bukanlah berarti kehati-hatian dalam mengambil satu keputusan tersebut sampai menunda-nunda waktu yang panjang akan tetapi adalah bagaimana pemikiran dan massa yang sebenarnya. satu permasalahan dapat dikritisi secara cermat sebelum diambil satu langkah berikutnya.
Unsur yang mengakibatkan orang kurang berhati-hati itu banyak sekali. Seperti lingkungan yang buruk, ataupun dari dalam diri seperti merasa diri kuat, berkuasa, karena sanjungan dan lain-lain. Dalam kakawin Ramayana disebutkan : Kekuatan si singa menakutkan, akan keberaniannya tidak ada bandingnya, demikian kata orang, walaupun demikian berhati-hati pulalah ia membunuh. Itulah yang patut ditiru (Ramayana III. 60).

Beberapa Nilai Etika Dalam Manajemen Organisasi Modern

a. Keahlian Pribadi
Seseorang yang tergabung dalam sebuah organisasi akan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar pula bagi organisasinya. Orang yang memiliki keahlian pribadi ini seperti; mempunyai komitmen dan konsekwensi yang tinggi, berinisiatif, kreatif, visi pribadi yang jelas, percaya diri secara mendalam, tanggung jawab yang mendalam, selalu berusaha mengembangkan diri, punya kemampuan untuk mencapai hasil yang diinginkan, serta melihat realitas secara objektif.

b. Visi Bersama
Visi bersama tidak sekedar komitmen awal pendirian organisasi, tetapi juga pada kelangsungan organisasi selanjutnya. Vlsi bersama membangun lingkungan dimana minat individu tidak menjadi yang terpenting. Setiap orang berkeinginan menjadi bagian dan suatu yang lebih besar dan dirinya. Visi bersama yang dikembangkan dan visi pribadi akan menghasilkan komitmen, sedangkan yang dijabarkan dan instruksi tingkatan lebih tinggi (topdown) akan menghasilkan kepatuhan yang tidak memberikan dinamika

c. Model Mental
Diandaikan model mental seseorang seperti jendela kaca dan setiap pribadi seseorang. Orang akan melihat sesuatu dilingkungannya akan berbeda-beda karena dilihat dan jendela yang berbeda. Sehingga sistim berfikirpun akan tampak kusut bila jendela tersebut tidak pernah dibersihkan. Mental model sangat mempengaruhi apa yang kita kerjakan, terutama karena mental model mempengaruhi apa yang kita lihat. Dua oráng yang berbeda dengan mental modelnya masingmasing akan melihat satu kejadian yang sama sesuai gambarán masing-masing. Mental model yang merendahkan pendapat orang lain sebenarnya menunjukkan bahwa pemilik mental model tersebut tidak berkompeten dengan masalahnya. Pemimpin yang tidak berani menguji asumsinya dan tidak berani berubah cenderung akan bertindak “jump to the conclusion”. Kegagalan untuk memperbaiki mental model tidak membantu perkembangan berpikir secara sistemik.

d. Pembelajaran Team
Adalah satu proses pengembangan kemampuan bersama untuk mencapai hasil yang sesungguhnya. Esensi yang terkandung ada tiga hal : Keharusan benfikir jernih dan mendalam terhadap issue, bertindak inovatif, kesediaan anggota team untuk berperan dalam team yang lain dan saling melengkapi. Pembelajaran ini secara benar akan menghasilkan sinergi yang berpengaruh pada keputusan keputusan cerdas.

e. Berpikir sistemik
      Merupakan fenomena pemecahan masalah dengan pola pikir kerangka yang saling berkaitan. Cara ini ditengah kompleksitasnya permasalahan keorganisasian sangat tepat. Dalam berpikir system yang holistic ini membuat kita tidak terjebak dalam menghindari kompleksitas tetapi mengoorganisir kompleksitas tersebut dalam rangka mengetahui sebab permasalahan dan pemecahannya.

Kesimpulan
Dari beberapa pemikiran tentang kerangka berpikir berdasarkan etika Hindu maka lima macam cara berpikir sebagai manajemen organisasi modern pada dasarnya mengedepankan penghargaan terhadap setiap individu yang terlibat dalam satu organisasi.
Penghargaan baik bersifat abstrak ataupun yang riil, dari yang bersifat motivasi bersama hingga aktualisasi program hendaklah mencerminkan pemikiran, perkataan serta perbuatan yang dikoridori ajaran agama Hindu.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar